Jumat, 30 Juli 2010

Puisi Kebencian

Ini adalah puisi tentang kebencian
Antara aku dan dia (seseorang yang gak perlu disebut namanya

Awalnya aku mengganggapnya teman
Tapi, karena sepatah dua patah kata tentangku
Yang dia ucapkan ma aku

Menghancurkan hidupku

Sejak saat itu, aku merasa takut untuk menghadapi dunia
Merasa takut untuk bertemu dengannya, dengan teman-temannya, dengan semua orang
Membuatku menjalani hari-hari dengan kepala tertunduk
Membuatku merasa bimbang,
mana kawan dan mana lawan?
Membuatku merasa, semua orang menatapku
dengan tatapan kebencian

Kepercayaan diriku mulai terpuruk sampai ke titik nol
Keceriaanku berubah menjadi kemurungan
Membuatku yang sangat optimis menjadi super pesimis
Membuatku tidak dapat mempercayai siapapun lagi

Hanya dengan sepatah kata,
Mengubah tawa menjadi air mata
Mengubah canda menjadi isak tangis
Mengubah kepercayaan menjadi sebuah penghianatan

Aku bukanlah seorang yang pendendam,
Aku pun tak ingin menjadi seorang pendendam
Tetapi, mengapa teramat sulit bagiku untuk memaafkannya?

Ini adalah puisi tentang kebencian
Tentang aku
Tentang dia

Selasa, 13 Juli 2010

Berpikir Positif

Percaya atau tidak, sikap kita adalah cermin masa lampau kita, pembicara kita di masa sekarang dan merupakan peramal bagi masa depan kita. Maksudnya apa ? Ya, bahwa kondisi masa lalu, sekarang dan masa depan kita dapat tercermin dari bagaimana sikap kita sehari-hari. Camkan satu hal, sikap kita merupakan sahabat yang paling setia, namun juga bisa menjadi musuh yang paling berbahaya.

Bagaimana sikap mental kita adalah sebuah pilihan; positif ataukah negatif.

W.W. Ziege pernah berkata.”Tak akan ada yang dapat menghentikan orang yang bermental positif untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya, tak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat membantu seorang yang sudah bermental negatif.
Jika kita seorang yang berpikiran positif, kita pasti mampu menghasilkan sesuatu. Kita akan lebih banyak berkreasi daripada bereaksi. Jelasnya, kita lebih berkonsentrasi untuk berjuang mencapai tujuan-tujuan yang positif daripada terus saja memikirkan hal-hal negatif yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kehidupan dan kebahagiaan seseorang tidaklah bisa diukur dengan ukuran gelar kesarjanaan, kedudukan maupun latar belakang keluarga. Yang dilihat adalah bagaimana cara berpikir orang itu. Memang kesuksesan kita lebih banyak dipengaruhi oleh cara kita berpikir.
Ingat perkataan Robert J. Hasting, “Tempat dan keadaan tidak menjamin kebahagiaan. Kita sendirilah yang harus memutuskan apakah kita ingin bahagia atau tidak. Dan begitu kita mengambil keputusan, maka kebahagiaan itu akan datang”.

Dengan bersikap positif bukan berarti telah menjamin tercapainya suatu keberhasilan. Namun, bila sikap kita positif, setidak-tidaknya kita sudah berada di jalan menuju keberhasilan. Berhasil atau tidaknya kita nantinya ditentukan oleh apa yang kita lakukan di sepanjang jalan yang kita lalui tersebut.

Cara Melupakan Orang Yang Kita Cintai

Berpisah dengan orang yang pernah kita cintai memang sangat menyedihkan. Perasaan menjadi terombang-ambing, emosi menjadi tidak terkendali dan kadangkala tindakan kekerasan dapat dilakukan terhadap orang lain sebagai pelarian rasa sakit.

Namun sebenarnya hal-hal negatif tidak perlu terjadi, asalkan Anda lebih dapat mengontrol emosi serta merenung sejenak. Bahkan mungkin hubungan Anda bersamanya dapat berakhir sebagai teman setelah cinta Anda berdua usai.

Anda perlu tahu, Anda sedang berada dalam situasi putus cinta tahap ke berapa. Apakah sudah pada tahap siap memecahkan barang-barang, atau Anda sudah melakukannya? Atau mungkin Anda masih pada tahap meratapi cinta yang lalu.

Langkah berikutnya tergantung pada tahap apa yang sedang Anda alami. Jika Anda berada dalam tahap siap-siap untuk mengakhiri kisah cinta Anda, lakukanlah. Jangan tunda satu hari pun untuk menyembuhkan lukanya (atau luka Anda). Jika hubungan Anda sudah selesai, terimalah. Meskipun Anda bukan orang yang mengakhirinya, belajarlah dari pengalaman Anda dan cobalah untuk maju.

Apapun kondisi Anda. Akhirnya, tidak penting lagi apa yang dipikirkan orang lain, tetapi apa yang bisa membuat Anda tenang. Dan penting bagi Anda adalah masa-masa di mana Anda lebih memperhatikan diri Anda dibandingkan masa-masa Anda berduka.